17 September 2019

Kisah Perjalanan Antar Lautan Mentawai Dan Desa Saliguma


Bersama rombongan PT PLN Persero Unit Wilayah Sumbar dan ICON+ SBU Pekanbaru kami menuju sebuah Desa Saliguma Kecamatan Siberut Kepulauan Mentawai.


Keberangkatan kami jam 06.30 dari Kota Padang,  pada sebuah dermaga yang bernama muaro.
Perjalanan laut ini,  bukanlah yang pertama saya lalui. Ini perjalanan yang ke sekian kali nya saya arungi.

Bercerita tentang laut,  saya termasuk sosok penakut dengan yang namanya laut. Singkat cerita karena tugas dari kantor,  perjalanan ini harus saya tempuh dengan suka cita.

Sepanjang perjalanan saya nikmati buih - buih ombah yang dipecah belah oleh kapal yang kami tempuhi. Sepanjang jalan saya nikmati sejuknya angin pantai,  walau sedikit lengket di pipi. Ini realita perjalanan laut.

Ketika saya lihat kiri kanan jalan laut yang ditempuh kapal kami,  sungguh indah Allah menciptakan keindahan alam ini. Perjalanan akan terasa indah,  jika perjalanan dinikmati dengan penuh suka cita.  Begitu juga hidup ini,  saya juga lewati dengan suka cita.


Jika kita lihat kedepan,  bagaima sosok kapal menerobos gelombang besar. Dan jika kita lihat kebelakang,  butiran ombak di pecah berderai oleh kapal yang kami tumpangi. Masa depan yang gemilang bukanlah sesuatu yang gampang saja dimiliki atau bahkan di dapati. Tentunya lika liku perjalanan yang panjang juga,  bukan?

Saya coba tatap satu persatu penumpang yang ada di kapal Mentawai Express ini. Dan beraneka ragam juga versi maupun raut wajah para penumpang. Ada yang bahagia,  ada yang takut,  dan bahkan ada terpaksa berangkat karena tugas.

Namun ini hanyalah perjalanan,  meski banyak versi wajah - wajah yang saya lihat. Tentunya ini hanya perjalan sehari saja. Toh,  sorenya balik lagi kan?

Demikian juga hidup di dunia ini, tentunya perjalanan hidup didunia juga singkat toh. Makanya perbanyaklah mencari pahala. Karena dengan pahala itulah kita bisa hidup di akhirat nantinya.

Sesampai di sebuah desa yang bernama Desa Saliguma. Kapal yang  saya tumpangi merapat ke dermaga. Dermaga yang pertama kali saya kunjungi.

Sesekali saya mencoba menikmati. Sesekali saya coba untuk menyelesaikan amanat yang diberikan.

Sampai kembali menuju ke Kota Padang. Saya merasa bahwa memang benar,  ternyata hidup itu akan indah jika dilewati. Dan beban akan terlepas jika diselesaikan dengan bijaksana. Alhamdulillah..

Load disqus comments

0 komentar