Sebuah Cerita "Terapi Anak"

Sumber ilustrasi Gambar: nasional.tempo.co
Banyak kasus yang terjadi saat ini,  salah satunya adalah bully yang sering terjadi pada anak - anak saat ini. Dan tentunya hal demikian sangat mengkuatirkan para orang tua.

Berikut ini adalah sebuah cerita bully. Aku tidak tahu sumber awalnya dari mana?.  Karena cerita ini sangat menarik bagiku,  akhirnya aku publish dalam BlogNotes.

Bagi pemilik tulisan,  ijin ya?.  Tulisannya aku publish, tulisan asli tidak aku rubah sedikitpun. Keaslian tulisan anda masih terjaga.

Berikut adalah kisah ceritanya,  silahkan anda baca sampai selesai.


"Awalnya anak ini sering dibully di sekolah, lalu anak minta pindah. Orang tua mempertimbangkan biaya jadi hanya bisa "memotivasi" anak agar mampu melewati tantangan di sekolah.

Motivasi itu hanya tahan beberapa hari, selanjutnya anak merengek minta pindah lagi dan dimotivasi lagi, demikian seterusnya.

Saat saya melihat tanda tangan ibu dan bapaknya, saya menduga anak ini sering "dibully" di rumah dan dibenarkan ibunya.

Bapaknya keras, sering memarahi.

Sikap keras bapaknya membuat pola anak untuk patuh, diam, atau tak melawan saat mendapat tekanan (amarah dari bapaknya). Pola itu tak sadar dibawa ke sekolah.

Saat mendapat tekanan atau cemoohan di sekolah, anak terpola diam tak melawan. Jadi motivasi bapaknya agar "lawan Nak, lawan!" tidak mempan sebab kemampuan alamiah itu justru dihapus oleh bapak sendiri saat menekan anak.

Maka saya menyarankan agar kedua orang tua meminta maaf ke anak sebagai terapi. Mensugesti ke anak bahwa 1) orang tua salah dan 2) dia berharga.


Memarahi anak hakikatnya adalah cara merendahkan (harga diri) anak. Maka saat dia ada di lingkurangan yang keras, anak memendam rasa itu dan terpancar lewat sikap tubuh.

Jadinya jadi sasaran bullying.

Meminta maaf adalah mengoreksi sugesti anak bahwa dia berharga dan (dulu) orang tua salah. Dengan cara itu pikiran anak berubah, menjadi lebih berharga dan tak sadar percaya diri serta kuat.

Bagi orang tua, meminta maaf ke anak adalah melawan ego sendiri. Sebab sering orang tua pun korban kekerasan orang tuanya lagi dan sebenarnya menuntut mereka meminta maaf.

Tapi tak bisa.

Jadi saat anaknya yang diperlakukan keras "menuntut" minta maaf, egonya keluar. "Dulu orang tua kami tidak meminta maaf kepada kami saat kecil dulu, kenapa sekarang kami harus meminta maaf kepadamu Nak?"

Tapi inilah yang perlu dilakukan.

Pilihannya adalah menyelamatkan ego atau anak. Mana yang paling berharga?

Bila sepakat untuk mengorbankan ego dan menyelamatkan anak, terapi diri sendiri. Maafkan orang tuanya dulu, Ikhlas kan masa lalu, terima diri apa adanya.

Melakukan terapi ke anak agar "bisa diatur" serta "berprestasi" bukanlah membawa anak ke psikologi atau sejenisnya. Tapi berhenti menjadikan anak sasaran pelampiasan ego (orang tuanya) sendiri.


Jadi yang perlu diterapi adalah orang tuanya.

Setelah orang tua selesai dengan dirinya, mampu mengendalikan egonya, anak pun selesai dengan masalahnya dan mampu mengendalikan pikiran serta emosinya.

Saat semua sudah bahagia, hal-hal yang membahagiakan datang sendiri.

Wallohu a'lam
Depok, 17 Februari 2020
Ahmad Sofyan Hadi
Founder BehinDsign
Silahkan share bila bermanfaat ".

Demikian sebuah cerita dari Ahmad Sofyan Hadi yang aku petik dari group Whatsapp (WA).  Salam BlogNotes.
Sebuah Cerita "Terapi Anak" Sebuah Cerita "Terapi Anak" Reviewed by BlogNotes on March 22, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.